Sabtu, 23 Juli 2016

Kasih Ibu kepada Beta



Kasih Ibu kepada Beta
oleh: Santi, S.Pd, Gr

Mak’e adalah sebuah panggilan sayang untuk ibundaku tercinta. Mak’e telah menungguiku selama dua bulan di Flores setelah aku melahirkan anak pertamaku “ Albirth M.Sundi” terhitung mulai 15 Mei-18 Juli 2016. Terima kasih mak sayang. I love you full.
Jauh hari sebelum aku melahirkan, mak’e telah membeli tiket pesawat Surabaya-Labuan Bajo untuk tiga orang yakni saat suamiku menjemput mak’e ke Jombang (tiket Labuan-Bajo-Surabaya, 6 Mei 2016) dan saat mak’e dan suamiku datang ke Flores (Surabaya-Labuan Bajo, 15 Mei 2016). Menurutku dan suamiku, jadwal tiket itu sudah tepat karena bidan di puskesmas Wae Nakeng memperkirakan HPL anakku ( Hari Perkiraan Lahir) adalah tanggal 25 Mei 2016.
Perkiraan bidan tentang HPL kadang tepat, kadang lebih cepat dan kadang juga lebih lambat. HPL anakku ternyata lebih cepat (baca: maju) dua puluh dua hari. Al lahir tanggal 3 Mei 2016. Setelah kami pulang dari Puskesmas Wae Nakeng tanggal 5 Mei 2016 itu, sore harinya suamiku berangkat ke Labuan Bajo diantar kakak iparku (Bapak Arib) dengan motor. Saat itu Al berusia tiga hari. Suamiku memilih naik motor karena dia takut mabuk darat kalau naik taksi ke Labuan Bajo. Sayangnya saat itu hujan deras. Sempat motornya jatuh, tetapi Alhamdulillah suamiku dan kakak iparku luka ringan saja dibagian kaki. Suamiku menginap semalam di Labuan (di rumah Pak Bahun, tempak Adek Ila tinggal di Labuan) karena jadwal penerbangan adalah keesokan harinya yakni 6 Mei 2016 pukul 7 pagi. Save flight.
Setiba di bandara Juanda (Terminal 1), suamiku dijemput teman akrab kami (Mas Didin) dengan motor kesayangannya. Mas Didin begitu baik. Dia mengantar suamiku sampai di rumahku (baca: Jombang). Mereka tiba di Jombang sekitar pukul 18.00 WIB. Alhamdulillah mereka sampai Jombang dengan selamat. Thank you Mas Didin. Usai makan nasi goreng dan the hangat, Mas Didin berpamitan pulang ke rumahnya (baca: Jogoroto Jombang).
Suamiku di Jombang sekitar Sembilan hari. Bagiku Sembilan hari itu wajtu yang lama untuk menunggu kedatangan suamiku dan mak’e ke Flores. Di rumah Flores, aku dirawat Ibu mertua dan juga kakak dan adik ipar serta keponakan-keponakanku yang baik. Mereka menganggapku sebagai anak/adik/dan atau bibi mereka sendiri.
Hari itu hari bahagia Mak,
Lima belas Mei 2016 adalah saat-saat yang aku tunggu-tunggu. Pukul 01.00 dini hari rombongan satu elef mak’e sekeluarga mengantar mak’e dan suamiku ke bandara Juanda Surabaya (Terminal 1). Rute yang dilalui adalah Juanda Surabaya-Ngurah Rai Bali-Komodo Labuan Bajo. Setiba di bandara Komodo Labuan Bajo, mak’e dan suamiku naik travel selama dua jam untuk sampai di rumah Flores (baca: Watu Lendo, Siru, Manggarai barat, Flores, NTT).
Dug... dug... dug... terdengar suara motor parker di depan rumahku. Ternyata itu adalah motor Bapak Aje dan Bapak Arib yang membonceng mak’e dan suamiku. “Assalamualaikum” sapa mak’e dari depan pintu rumahku. Aku yang sedang berada di dipan tempat tidur Ibu mertua (menjaga Al sedang tidur), segera menuju depan pintu dan memeluk mak’e dengan erat. Mak’e... aku kangen. “Oalah nduk nduk,... kowe dadi angen-angenane Mak’e ae nduk nduk.” Aku memeluk mak’e dengan erat. Aku kangen mak’e karena sudah setahun belum bertemu semenjak aku tinggal di Flores bersama suamiku.
Aku dan seluruh keluargaku di Flores menyambut kedatangan mak’e dan suamiku dengan penuh suka cita dan tangis bahagia. Kami masak opor ayam untuk dimakan bersama sebagai wujud rasa syukur atas kedatangan mak’e dan suamiku ke Flores dengan selamat. Saat mak’e ke sini Al berusia dua belas hari. Mak’e sangat senang bertemu aku dan cucu pertamanya. Begitu juga dengan aku. Aku sangat senang bertemu Mak’e.
Selama dua bulan lebih tiga hari di Flores, mak’e mengajariku berbagai hal berkenaan dengan merawat bayi mulai dari memandikan bayi sampai tetek mbengek yang lain hingga mengatur waktu antara waktu makan dan menyusui bayi agar tidak keteteran. Thank you Mak’e.
Tak terasa hari begitu cepat berlalu. Idul Fitri (tanggal 6 Juli 2016) dan acara akikah Al (11 Juli 2016) pun sudah selesai digelar. Tinggal menghitung hari saja Mak’e akan pulang ke Jombang.
Senin itu hari yang membuat air mataku berderai Mak’e...
Delapan belas Juli dua ribu enam belas. Hari dimana mak’e pulang ke Jombang diantar suamiku dengan naik pesawat. Pagi-pagi betul sekitar pukul 4 subuh, Mak’e sudah bangun, mandi, shalat subuh dan mencuci popoknya Al serta menjemurnya di halaman depan rumah. Rupanya Mak’e sangat girang dan senang karena hari itu mak’e akan pulang ke Jombang untuk bertemu bapak, Beb sayang, nenek serta semua keluarga besar kita di Jombang. Ibu mertuaku juga sejak Subuh itu sudah bangun untuk menyiapkan sarapan pagi. Seusai sarapan pagi, kami makan kue cucur dan the hangat kemudian menunggu travbel datang di ruang tamu. Tepat pukul 07.26 om Arsen travel telah datang.Mak’e dan suamiku pun berpamitan pada kami semua di sini. Semoga selamat sampai Jombang mak’e. Aamiin.
Dua jam perjalanan travel Lembor-Labuan Bajo. Sekitar pukul 09.30 mak’e dan suamiku sampai di Labuan (rumah Pak Bahun, tempat dek Ila tinggal). Mereka istirahat sejenak di sana sebelum pergi ke bandara Komodo. Usai makan siang sekitar pukul 14.00 WITAdek Ila dan keponakan mengantar mak’e dan suamiku ke bandara dengan motor. Jaraknya cukup dekat sekitar lima menit saja dengan motor. Seharusnya jadwal boarding adalah pukul 15.00 WITA, namun keberangkatan ditunda sekitar dua setengah jam. Tepat pukul 17.30 pesawat Nam Air dengan tujuan Labuan Bajo-Bali meluncur. Bismillah. Save Flight.
Sampai di bandara Ngurah Rai Bali, mak’e dan suamiku cepat-cepat chek in lagi karena mereka ganti pesawat yaitu Lion Air. Sempat juga ada orang Makassar bilang kalau barang-barang yang ditaruh di bagasi Nam Air hilang. mak’e pun panic. Untungnya itu cuma isu saja. Setelah suamiku meminta bantuan petugas Nam Air untuk mengecek dan memindahkan barang mereka di bagasi Lion Air, barang di bagasi aman, tidak ada yang hilang satupun. Barang yang di bagasi itu adalah tas bajunya mak’e dan satu kardus berisi kue dari dek Ila.
Tepat pukul 21.00 WITA, pesawat Lion Air tujuan Ngurah Rai Bali ke Juanda Surabaya pun meluncur. Save Flight ya Allah.
Aku selalu melihat sms di hapeku tentang kabar terkini dari mak’e dan suamiku. Alhamdulillah hapeku bordering dan ada telpon dari mak’e kalau mak’e dan suamiku sudah sampai di bandara Juanda Surabaya (Terminal 1). Usai mengambil barang bagasi, mak’e dan suamiku bertemu dengan Bapakku Beb Sinta serta rombongan satu elef yang telah menunggu di depat Departure Gate (pintu kedatangan). Betapa bahagianya pertemuan itu. Aku bisa merasakannya dari sini Mak’e.
Tangis bahagia untuk pertemuan yang telah dirindu-rindukan. mak’e begitu bahagis bertemu Bapakku, Beb Sinta nenek serta seluruh keluarga besarku di Jombang. Bek Pat yang sudah menyiapkan nasi bungkus dari rumah, pun mengeluarkan nasi bungkus itu dan mengajak semua rombongan untuk makan malam bersama. Bahagia rasanya. Usai makan malam, rombongan mengantar suamiku ke terminal 2 karena penerbangan keesokan harinya adalah dengan pesawat Air Asia.
Pukul 00.15 WIB, Mak’e beserta rombongan sudah sampai di terminal 2. “Hati-hati di jalan” Semoga selamat sampai tujuan”  kata Mak’e beserta rombongan kepada suamiku. Mak’e dan rombongan satu elef pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jombang.
Tepat pukul 07.00 suamiku sudah berada di ruang tunggu. Tak lama kemudian pesawat Air Asia pun datang. Save Flight for Surabaya-Bali. Pukul 09.30 suamiku sampai di bandara Ngurah Rai-Bali. Suamiku pun makan nasi bungkus yang dibawakan Bek Pat. Tak lupa membeli cemilan cokelat dan biscuit. Lapar pun hilang sekejab.
Setelah empat jam transit di Bali dan tunda keberangkatan satu jam, pesawat Nam Air Bali-Labuan bajo pun tiba. Tepat pukul 15.00 WITA pesawat meluncur. Save Flight ya Allah. bapak Arib pun juga sudah menjemput suamiku ke Labuan sejak pukul 14.00 dengan motor. Hati-hati di jalan ya.
Kami semua menunggumu di rumah.
Dug... dug... dug. Itu suara motor suamiku. Tepat pukul 20.00 WITA, suamiku dan Bapak Arib sudah sampai rumah. kami semua lega. Aku juga mengabarkan kepada Mak’e kalau suamiku sudah sampai di rumah dengan selamat.
Alhamdulillah.
Mak’e, Pak’e , Beb Sinta sayang, I miss you so much.
Jaga kesehatan dan baik-baik selalu beserta seluruh keluarga besar kita.
 di Jombang.
I love you.

Watu Lendo, 19 Juli 2016
Anakmu

Santi













IDUL FITRI 2016



IDUL FITRI 2016
Sebuah catatan Santi untuk Ayah dan Beb Sinta tercinta
oleh: Santi

Watu lendo, 6 Juli 2016

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...!
Teruntuk:
Ayah dan beb Sinta tersayang J
Sengaja aku tuliskan catatan ini untukmu tersayang dan juga pada seluruh keluargaku yang kini berada di Jawa (read: Jombang)

Ayah,,,Beb Sinta sayang...
Aku sungguh merindukan kalian. Apa kabar Ayah? Apa kabar beb Sinta sayang? Semoga kalian semua sehat wal’afiat, panjang umur dan dalam lindungan-Nya seperti halnya aku, Ibu dan seluruh keluarga di sini.
Ayah, Beb Sinta sayang...
Aku kangen kalian. Aku kangen Mbah Mirah, Pakdhe Mul n fam, Pakdhe Ri n fam, Paklek No n fam, Paklek To n fam, Paklek Agung n fam, dan paklek Sam n fam dan semua keluarga di Jawa yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Aku kangen banget. Lebaran tahun 2016 ini jatuh pada hari Rabu, 6 Juli 2016. Ya, hari ini aku menulis catatan ini sebagai obat rasa rinduku pada kalian semua.
Lebaran tahun ini begitu berbeda dari lebaran tahun-tahun sebelumnya bagiku. Tahun ini aku sudah menjadi ibu dari putra pertamaku “ Albirth M.Sundi”. Tahun ini biarlah Ibu yang mengunjungiku ke sini, melihat keseharianku di sini, menjagaku, menasehatiku dan mengajariku segala hal yang berhubungan dengan m,erawat bayi. Aku senang sekali Ibu berada di sini selama dua bulan. Aku ber-Lebaran bersama Ibu di sini , Mas Abu dan seluruh keluarga di sini (read: Manggarai Barat, Flores, NTT). Walaupun tempat lebaran kita berbeda, aku yakin hati kita tetap satu. Insya Allah, semoga kita semua berumur panjang sehingga lebaran tahun depan kita akan bertemu di Jawa. Aku akan datang bersama Mas Abu dan adik Al. Insya Allah. Jangan merasa kesepian Ayah, Beb Sinta sayang. Tahanlah sedikit rasa rindu kalian pada Ibu tercinta. Ibu kan sudah mau pulang ke Jawa tanggal 18 Juli 2016. Tinggal menghitung hari saja kan. Sabar ya Beb sayang...
Hari ini akan kuceritakan sebuah tradisi perayaan Idul Fitri di sini. Semoga Beb senang membacanya J
Ayam jago telah berkokok dan suara Adzan subuh berkumandang di masjid belakang rumahku. Takbir pun berkumandang. Semua umat muslim telah menunaikan shalat Subuh dan bersiap-siap untuk shalat Idul Fitri berjamaah di lapangan. Begitu juga dengan Mas Abu, Ibu mertua dan dek Ila. Mereka telah menata tikar di ruang tamu sebelum berangkat shalat Id ke lapangan. Sedangkan, aku, Ibu dan adik Al ada di rumah.
Usai shalat Id, mereka pulang ke ru,mah. Kami langsung duduk di tikar dan jabat tangan untuk mohon maaf lahir dan batin. Ada suatu adat yang beda dengan acara Idul Fitri di Jawa. Kami di sini bermaaf-maafan sambil melepas tangis. Tamu juga datang silih berganti. Tiap tamu datang, kami suguhkan kue dan minuman hangat. Kue kucur merah, bolu, kue mentega dan juga kue cuccene (khas Manggarai). Kue-kue tadi ditaruh di piring-piring bukan di toples. Tujuannya supaya para tamu tidak malu untuk mengincip kue. Kami juga membuat ketuipat ketan hitamdan masakan ayam kecap untuk acara makan siang bersama keluarga. Rame sekali beb di sini. Andai Ayah dan Beb Sinta sayang ada di sini, pasti acara Lebaran kita tambah ramai...  J J J
Aku dan Ibu kangen kalian Beb, Yah...
Aku rindu Lebaran di rumah Jawa. Kita takbir keliling bersama, shalat Id bersama dan lahir batin bersama. Bahagianya ... Semoga aku dan mas Abu dan seluruh keluarga di sini panjang umur dan cukup rejeki sehingga insya Allah Desember tahun ini kami bisa pulang untuk sambaing temu kangen dengan kalian semua di Jawa. Aamiin. Aku benar-benar kangen.
I miss you so much...
Love you more and more


Watu Lendo, 6 Juli 2016


Santi





Minggu, 24 April 2016

PESIAR KE PULAU RINCHA



PESIAR KE PULAU RINCHA
“ LOH BUAYA” 18 OKTOBER 2015
Oleh: Santi, S.Pd, Gr.

Ketika pikiran sumpek, penat dan jenuh ada hal yang perlu dilakukan yakni piknik atau istilah lainnya adalah pesiar. Pesiar pun tak harus jauh, yang penting bisa fresh lagi.
Sebenarnya aku tidak hobi pesiar. Tapi, mungkin kali ini adalah rejeki karena pesiarnya ke tempat yang belum aku lihat sebelumnya dan gratis pula. Siapa yang tidak senang coba. Hehehe..
Hari itu, Minggu 18 Oktober 2015. Aku, suami, dan adik ipar diajak pesiar gratis oleh keluarga Bapak Tua di Marombok karena kebetulan besan beliau datang dari Subang Jawa Barat. Lagi pula, salah satu anak Bapak Tua, yakni Bapak Yono adalah salah satu petugas di Pulau Rincha. Yups. Oleh karena itu, kami diajak pesiar gratis ke Pulau Rincha untuk melihat komodo.
Siang hari, sekitar pukul 11.00 WITA, rombongan kami berangkat dari Marombok naik oto carry-nya Bapak Anggun. kami berangkat dengan suka cita dan membawa bekal makanan berupa nasi di termos, ikan, mangga muda, garam, makanan ringan , dan juga aqua gelas sebagai penghilang lapar dan dahaga saat kami sampai di Pulau Rincha nanti. Bismillah. Kami berangkat.... Meluncur ke Labuan Bajo.
Tak lama kemudian, sekitar dua puluh menitan, kami pun tiba di Labuan Bajo. kami segera naik speed boat yang sudah disewa sebelumnya. Sekitar satu juta biaya sewanya PP dari Labuan Bajo-Pulau Rincha-Labuan Bajo. Meluncur... Petualangan di Pulau Rincha pun dimulai.
Pulau Rincha jaraknya dua setengah jam jika ditempuh dengan perjalanan laut dari Labuan Bajo. Di sepanjang perjalanan, kita akan dimanjakan dengan birunya air laut, gunung-gunung yang indah dan menjulang di sebelah kiri dan kanan speed boat kita, begitu juga dengan burung-burung yang terbang di atas awan. Sungguh indah bentang alam ciptaan Tuhan. Ada juga pemukiman penduduk yang berbentuk rumah panggung di tepi laut. Bagi teman-teman yang khawatir mabok laut, bisa minum obat anti mabok agar perjalanan ke Pulau Rincha tidak terganggu.
Sampai di depan Pulau Rincha, kita akan melihat banyak speed boat atau kapal-kapal yang berlabuh baik kapal domestic maupun manca negara. Mereka juga termasuk rombongan yang ingi melihat komodo. Kebanyakan kapal mancangegara adalah dari Jerman. Asyik juga ngobrol dengan mereka dengan bahasa Inggris.
“Loh Buaya” Tulisan di Gerbang masuk ke Pulau Rincha
Setelah memasuki gerbang bertuliskan “Loh Buaya”, kita akan berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai ke Gerbang dengan Patung Komodo sepanjang tiga meter. Dari situ, kita sudah dekat ke loket tiket masuk. Sebelum melihat komodo, kita diwajibkan untuk membeli tiket masuk di Loh Buaya Official Ticketing. Kita harus berada dalam trail/rombongan, tidak boleh saling berpencar dan harus menyewa paling tidak dua guide atau penjaga untuk mengawasi rombongan kita dari depan dan belakang. Memasuki kawasan Loh Buaya, guide akan memberikan pilihan kepada kita apakah kita akan melewati short track (lintasan pendek )atau long track (lintasan panjang).
Di awal perjalanan, kita akan melihat sekawanan komodo yang tengah beristirahat di bawah rumah panggung (dapur) petugas Loh Buaya. Komodo berada dalam kawanan sekitar sepuluh sampai sebelas ekor. Kita juga bisa foto di depan komodo atas pengawasan guide. Kita juga harus berhati-hati di sana karena komodo memiliki daya penciuman yang sangat tajam. Dihimbau agar para pengunjung tidak berisik, sepatu atau alas kaki diangkat ketika berjalan, bagi wanita yang sedang haid diimbau untuk selalu berada di dalam rombongan dan tidak berpencar. Selain itu, komodo juga sangat peka dengan warna merah. Jadi, pengunjung dilarang untuk memakai baju cerah seperti merah karena warna merah menyerupai darah.
Setelah itu, guide akan mengajak kita ke sarang komodo di mana para komodo bersarang di atas tanah yang mereka lubangi. Selanjutnya kita akan naik bukit yang lumayan tinggi untuk dapat melihat pulau Rincha dari atas. Sebaiknya kita membawa bekal air mineral agar tidak dehidrasi saat memuncak yang lumayan melelahkan di tengah teriknya matahari yang menyengat. Perjalanan memuncak bukit yang melelahkan terbayarkan saat kita berada di atas bukit. Wow. Subhanallah. Sungguh indah dan luar biasa. Tampak di belakang kita menyerupai danau biru yang diapit teluk. Abadikan moment kita saat di atas bukit dengan foto bersama.
Menuruni bukit, kaki sudah lumayan lelah. Kita bisa istirahat sejenak di gazebo kecil sebelum kembali ke speed boat untuk pulang ke rumah.
Sungguh luar biasa petualangan ke Pulau Rincha
Marilah pesiar ke sini
Ada sejuta pesona yang perlu kita saksikan
Sampai Jumpa di petualangan berikutnya J

Watu Lendo, 18 Oktober 2015
Penulis

Santi, S.Pd, Gr

ADAT PERNIKAHAN MANGGARAI



ADAT PERNIKAHAN MANGGARAI
Oleh: Santi, S.Pd, Gr.

Acara pernikahan adalah acara sakral bagi setiap orang dalam hidupnya. Agaknya, adat pernikahan di Jawa nampak berbeda dengan adat pernikahan di Manggarai. Setelah menghadiri ke-sekian kali acara pernikahan di Manggarai, saya merasakan ada sesuatu yang unik dan menarik.
Antara Woe dan Iname
Woe adalah sebutan untuk keluarga mempelai pria yang akan melangsungkan acara pernikahan bagi masyarakat Manggarai. Sedangkan iname adalah sebutan untuk keluarga mempelai wanita. Sebelum acara pernikahan digelar, antara woe dan iname telah melakukan kesepakatan tentang berapa besar mas kawin atau biaya pernikahan yang dikeluarkan. Sejak acara peminangan/khitbah/tuken baru (bahasa Manggarai), pihak woe-lah yang membayar biaya makan atau acara. Besar biaya pernikahan bergantung pada tawar menawar antara woe dan iname. Inilah yang disebut dengan istilah belis.  Besar belis juga bergantung pada tingkat pendidikan mempelai wanita. Semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin tinggi pula harga tawar belisnya. Entah berupa hewan ternak seperti kerbau, beras, ataupun uang. Dalam adat Manggarai, pihak iname juga diwajibkan membawa loce (tikar kecil) ataupun lipa (jarik) yang dibawa ke pihak woe dan nantinya akan ditotal untuk dibayar pihak woe. Uang dari pihak woe akan dibagikan ke keluarga iname yang hadir dalam acara pernikahan nantiya.
Ketika acara pernikahan berlangsung di rumah keluarga iname,
Seusai akad nikah dan resepsi pernikahan, kedua mempelai masuk rumah dan sungkeman kepada seluruh keluarga iname. Uniknya, setiap melewati sebuah pintu, mempelai wanita akan diberi uang saku hingga ke pintu terakhir dan menghampiri keluarga iname untuk sungkeman. Tangis dan haru biru terjadi sampai ke ulu hati. Seusai sungkeman, kedua mempelai menuju ke kamar pengantin untuk diberi wejangan dan uang saku oleh seorang petua adat.
Keesokan harinya, saatnya keluarga iname mengantarkan sang istri ke rumah suaminya,
Di rumah sang suami (keluarga woe), keluarga iname dijamu dengan sangat hormat dan diwajibkan menginap entah semalam atau dua malam tergantung konsep acaranya.  Semua biaya jamuan makan ditanggung oleh keluarga woe. Esok harinya keluarga iname berpamitan pulang.
Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi pasangan suami istri yang sakinah mawaddah warrahmah. Aamiin.

Watu Lendo, 6 September 2015
Penulis

Santi, S.Pd, Gr